Belajar sepanjang hayat, hingga terbenam di ufuk barat tetap memancarkan cahaya

Sabtu, 22 Mei 2010

Partnership Sebagai Faktor Penentu Keberhasilan Manajemen SKB Kota Bengkulu

Partnership Sebagai Faktor Penentu
Keberhasilan Manajemen SKB Kota Bengkulu

Oleh : Drs. Ervan Syarif (Kepala UPTD-SKB Kota Bengkulu)

I. Analisis Situasi
Kota Bengkulu sebagai ibu kota Provinsi Bengkulu menunjukkan geliat pembangunan dan perkembangan yang cukup siknifikan dalam beberapa tahun belakangan. Geliat ini akan semakin cepat pada beberapa tahun ke kedepan seiring dengan dituangkannya kebijakan pembangunan pariwisata internasional pada RPJM Provinsi Bengkulu 2005-2010. Kebijakan pembangunan pariwisata internasional ini terlihat akan sangat menguntungkan kota Bengkulu. Hal ini disebabkan objek-objek wisata yang ada di kota Bengkulu akan menjadi lokomotif daya tarik dari paket wisata internasional tersebut. Kecenderungan ini telah terlihat dari pembangunan infrastruktur pendukung program wisata yang sudah di realisasikan, yakni sebagian besar berada di kota Bengkulu terutama
pada objek wisata disepanjang pantai. Geliat pembangunan ini akan semakin lebih cepat lagi bila rencana pembangunan Pelabuhan pulau Baai dan jalur kereta api ke pelabuhan ini dapat direalisasikan. Geliat pembangunan kota Bengkulu yang sedang dan akan berlangsung mr~~ akan menciptakan peluang usaha dan penyediaan lapangan kerja yang besar pada heberSpa tahun ke depan.
Geliat pembangunan serta besarnya peluang usaha dan penciptaan lapangan kerja sebagaimana dipaparkan di atas adalah sisi optimistik yang menyertai berbagai masalah kependudukan yang ada, khususnya di kota Bengkulu ini. Masalah utama kependudukan yang dihadapi sekarang adalah relatif tinginya tingkat kemiskinan, pengangguran, dan putus sekolah. Data BPS provinsi Bengkulu (2007) mengungkapkan bahwa penduduk miskin di kota Bengkulu mencapai 20 persen, dan angka penganguran mencapai 30 persen. Demikian pula kondisi penduduk putus sekolah, yakni sekitar 75 persen penduduk tidak menamatkan SLTA, dan hanya sekitar 5 persen saja penduduk yang menamatkan diploma dan sarjana. Disamping ke tiga masalah kependudukan ini, geliat pembangunan yang terjadi juga akan berdampak pada peningkatan urbanisasi di kota Bengkulu. Paparan dari geliat ekonomi dan masalah kependudukan ini adalah gambaran dari peluang dan kendala untuk kemajuan kota Bengkulu ke depan.
Besarnya peluang usaha dan lapangan kerja yang akan tercipta hasil dari geliat pembangunan yang ada ini perlu dicermati dan diantisipasi secara dini agar ia menjadi solusi bagi pemecahan masalah kependudukan dan
pembangunan kota Bengkulu ke depan. Dalam kaitan inilah pendidikan
let non formal perlu diposisikan sebagai salah satu penentu sukses
antisipasi dimaksud, yakni pendidikan yang berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup dan keterampilan bekerja bagi tenaga kerja putus sekolah.




SKB sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas Diknas yang ada di kota Bengkulu memiliki tugas pokok melaksanakan sebagian kewenangan desentralisasi Dinas Diknas di bidang pendidikan Non formal meliputi Pendidikan Luar sekolah, Pemuda dan olah raga sesuai kebutuhan. Dalam rangka menjalankan tugas pokok ini, SKB memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai motivator dalam menumbuhkan kemauan belajar masyarakat, pelaku kegiatan pendidikan non formal seperti pendidikan kecakapan hidup, pelayanan informasi, fasilitator, dan fungsi koordinasi agar terjadi integrasi dan sinkronisasi dari kegiatan pendidikan non formal yang ada. Untuk melaksanakan tugas pokok ini, SKB dilengkapi dengan SDM yang terdiri dari Kepala SKB, Subbag TU, 7 (tujuh) orang pamong Belajar, dan 2(dua) orang Tenaga Administrasi, serta sarana dan prasarana fisik berupa ruang kerja dan ruang komputer seluas 226 m2, 1 (satu) set Komputer, perabot kantor, 20 buah meja belajar, 2 (dua) buah lemari arsip, dan papan data pegawai 2 (dua) buah, 2 (dua) papan peta, PTK/PNF. Paparan tentang tugas pokok dan fungsi SKB serta sumberdaya yang tersedia ini memperlihatkan kekuatan dan kendala SKB, yakni luasnya fungsi yang dimiliki sebagai kekuatan dan kondisi sumberdaya yang relatif terbatas sebagai kendala. Selain oleh SKB, pendidikan nonformal juga diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kursus dan pelatihan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, lembaga pendidikan tinggi dalam kaitan dengan darma pengabdiannya pada masyarakat. Berbeda dengan SKB,


lembaga-lembaga ini relatif tidak memiliki banyak fungsi tetapi memiliki fasilitas pedukung relatif memadai.
Pemikiran kritis pada keseluruhan paparan dimuka adalah SKB memiliki kewajiban yang besar serta dapat menjadi salah satu faktor penentu sukses dalam mengatasi masalah kependudukan di kota Bengkulu, yakni kemiskinan, pengangguran, putus sekolah, dan urbanisasi. Atas dasar pemikiran ini maka Manajemen SKB merumuskan visi SKB kQta Bengkulu yakni * Terwu.ju.dnya masyarakat Kota Bengkulu yang terampil, produktif, mandiri, dan kompetitif. Selanjutnya audit faktor internal memperlihatkan luasnya fungsi yang dimiliki SKB sebagai kekuatan dan relatif terbatasnya ketersediaan sumberdaya sebagai kendala. Sementara audit faktor eksternal memperlihatkan hal sebaliknya. Berdasarkan audit faktor internal dan eksternal tersebut maka manajemen SKB menetapkan partnership sebagai faktor penentu keberhasilan manajemen SKB sebagaimana judul dari tulisan ini.
II. Kenapa Partnership yang dipilih ?
Strategi tidak selalu berarti persaingan tetapi dapat juga berarti bekerjasama. Partnership berada dalam makna bekerjasama itu. Dalam hal ini SKB memposisikan lembaga-lembaga penyelenggara kegiatan pendidikan nonformal yang ada di kota Bengkulu bukan sebagai pesaing tetapi sebagai mitra potensial untuk mewujudkan visi "terwujudnya


masyarakat Kota Bengkulu yang terampil, produktif, mandiri, dan kompetitif . Dasar pilihan berikutnya adalah:
a. Audit Faktor Internal dan Eksternal
SKB memiliki fungsi relatif luas sebagai kekuatan tetapi memiliki keterbatasan sumberdaya, hal sebaliknya terdapat pada lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan non formal lainnya.
b. Fungsi-fungsi yang dimiliki
SKB memiliki fungsi yang cukup luas seperti fungsi motivator, pelayanan informasi, fasilitator, dan fungsi koordinasi. Pelaksanaan fungsi-fungsi ini akan maksimal bila strateginya berada dalam ranah kerjasama.
c. Sinergi
Berbeda dengan persaingan yang lebih berdasar pada win-lost solution, partnership berlangsung atas dasar win-win solution sehingga akan diperoleh sinergi yang mampu memberikan hasil lebih.
d. Peran Lokomotif
SKB harus mengambil peran lokomotif untuk kegiatan pendidikan non formal di kota Bengkulu. Hal ini tidak saja karena fungsi yang dimilikinya tetapi juga karena pendidikan non formal diyakini sebagai salah satu faktor penentu untuk mengatasi masalah kependudukan yang ada di kota Bengkulu.

III. Implementasi
Implenienasi manajemen SKB dibingkai oleh dasar-dasar pemikiran yang melandasi dipilihnya partnership sebagaimana paparan sebelumnya. Dengan bingkai ini maka implementasi manajemen SKB berisikan program-program sebagai berikut;
A. Indentifikasi dan pemetaan.
Program ini bertujuan agar SKB memiliki basis data yang akurat dalam menyusunan perencanaan dan memilih partner kerjasamanya. Program ini dicapai melalui kegiatan Penyusunan data base dan sistim manajemen informasi
B. Perkuatan (Empowering)
Program ini dimaksudkan agar dapat meminimalkan kelemahan-kelemahan dan kendala-kendala yang ada baik pada SKB maupun pada lembaga-lembaga penyelenggara kegiatan pendidikan non formal lainnya. Program ini dicapai melalui beberapa kegiatan pelatihan atau kursus seperti kursus komputer bagi pamong SKB, pelatihan bagi pendidik PAUD, pendampingan pakar / akademisi, pemuktakhiran data dan dukungan manajemen bagi penyelenggara program.


C. Mediasi
Melalui program mediasi ini diharapkan partnership tidak hanya terjadi antara SKB dengan lembaga-lembaga pendidikan PNF, tetapi dimungkinkan pula berlangsung diantara sesama lembaga PNF tersebut. Program mediasi ini juga diharapkan dapat mempermudah SKB untuk melaksanakan berbagai fungsi yang diembannya seperti fungsi sebagai motivator, pelayananan informasi, fasilitator, dan fungsi informasi. Program ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan silahturahmi baik kegiatan in-wall berupa forum pertemuan/diskusi, lokakarya, temu konsultasi maupun kegiatan out-wall berupa kegiatan-kegiatan gerak jalan sehat, study banding, dan lomba melukis.
D. Pengembangan Kerjasama dalam kegiatan PNF
Pengembangan kerjasama ini adalah dalam rangka mensinergikan
potensi dan kekuatan yang ada pada SKB dengan lembaga yang
mendedikasikan dirinya pada kegiatan PNF. Program ini telah
dilakukan dalam beberapa kegiatan penyelenggaraan dan diklat atau
kursus, yakni
A Diklat tutor PAUD
4- Pengembangan kurikulum dan bahan ajar PNF
4- Pengembangan data dan informasi PNF
4- Pengembangan pendidikan KF
■t Pemberdayan pendidikan dan tenaga pendidik dan kependidikan
non formal
<4 Penyelenggaraan pendidikan anak usia dini 4- Pelatihan kewirausahaan bagi pemuda 4 Pelatihan inisitor kelompok pemida sebaya 4 Pelatihan kepemimpinan 4> Pembinaan olah raga yang berkembang di masyarakat
E. Program Monitoring dan Evaluasi ( Monev )
SKB sebagai UPTD Diknas Kota Bengkulu memiliki beberapa fungsi agar kegiatan PNF yang ada di Kota Bengkulu dapat terintegrasi dengan baik dan sinkron dengan visi atau misi yang ditetapkan. Oleh sebab itu, partnership yang dikembangkan tidak berarti mengabaikan kegiatan monitoring dan evaluasi tetapi justru sebaliknya. Program monev ini dilaksanakan secara komprehensif meliputi kegiatan penyumbangan instrument monev itu sendiri, termasuk menyusun MOU atau perjanjian kerjasama, Site Visit, dan pengamatan pada pelaksanaan kegiatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda


ShoutMix chat widget

Pengikut

Daftar Blog Saya